Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Nur Hidayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nur Hidayah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 September 2011

Hodge ( My nama cantik pas PPS TH. 2010)


HODGE
Hodge adalah bidang-bidang lain dalam panggul untuk mengetahui seberapa jauh penurun kepala pada panggul.
Hodge adalah area yang terdapat pada panggul untuk menentukan sampai di mana bagian terendah janin turun ke dalam panggul pada persalinan dan terdiri atas empat bidang yaitu hodge I,II,III,dan IV


HODGE                                                                    
Bidang-bidang sepanjang sumbu panggul yang sejajar dengan pintu atas panggul, untuk patokan/ukuran kemajuan persalinan (penilaian penurunan presentasi janin).


REFERENSI:
  • Usmany DH, Manoe IMS, Manuputty J. Partograf. Bagian Obstetri &
    Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang.2009

  • dr. I.M.S. Murah Manoe, Sp.OG,dkk..Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekolog.Makasar . 2009

  • Anthonius Budi Marjono, FKUI 1992 (npm 0192000012), drPLD .jakarta.2010

KDPK 2

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG
Pemeriksaan laboratorium adalah suatu tindakan dan prosedur tindakan dan pemeriksaan khusus dengan mengambil bahan atau sample dari penderita dapat berupa urine (air kencing), darah, sputum (dahak), atau sample dari hasil biopsy. (www.dokter.indo.net.id).

Terdapat 3 faktor utama yang dapat mengakibatkan kesalahan hasil laboratorium yaitu:
  1. Pra intrumentasi       : sebelum pemeriksaan
  2. Instrumentasi           : saat pemeriksaan (analisa)
  3. Pasca instrumentasi  : saat menulis hasil pemeriksaan

Namun masih banyak sebagian orang yang belum mengetahui tentang pemeriksaan laboratorium ini seperti, persiapan, prosedur, ataupun pasca pemeriksaan. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis akan memberikan penjelasan mengenai pemeriksaan laboratorium. Diharapkan makalah ini memberikan informasi dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua, amin.

1.2. TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
  • Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari makalah ini adalah menambah pengetahuan tentang “PEMERIKSAAN LABORATORIUM”.
  • Tujuan Umum
1. Sebagai pemenuhan tugas mata kuliah KDPK,
2. Menambah wawasan dan pengetahuan pembaca.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. PENGERTIAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pemeriksaan laboratorium adalah suatu tindakan dan prosedur tindakan dan pemeriksaan khusus dengan mengambil bahan atau sample dari penderita dapat berupa urine (air kencing), darah, sputum ( dahak ), atau sample dari hasil biopsy. (www.dokter.indo.net.id).

2.2. TUJUAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM
            Adapun beberapa tujuan dari pemeriksaan laboratorium antara lain sebagai berikut.
1. Mendeteksi penyakit
2. Menentukan risiko
3.
Skrining/uji saring adanya penyakit subklinis
4. Konfirmasi pasti diagnosis
5. Menemukan kemungkinan diagnostik yang dapat menyamarkan gejala klinis
6. Membantu pemantauan pengobatan
7. Menyediakan informasi prognostic/perjalanan penyakit
8. Memantau perkembangan penyakit
9. Mengetahui ada tidaknya kelainan/penyakit yang banyak dijumpai danpotensial membahayakan
10. Memberi ketenangan baik pada pasien maupun klinisi karena tidak didapati penyakit

2.3. PRA INSTRUMENTASI
Pada tahap ini sangat penting diperlukan kerjasama antara petugas, pasien dan dokter. Hal ini karena tanpa kerjasama yang baik akan mengganggu/mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium.
(www.dokter.indo.net.id)
        
Yang termasuk dalam tahapan pra instrumentasi meliputi:

1. Pemahaman instruksi dan pengisian formulir laboratorium.
2. Persiapan penderita
3. Persiapan alat yang akan dipakai
4. Cara pengambilan sample
5. Penanganan awal sample (termasuk pengawetan) dan transportasi.

1. Pemahaman Instruksi dan Pengisian Formulir
Pada tahap ini perlu diperhatikan benar, apa yang diperintahkan oleh dokter dan dipindahkan ke dalam formulir. Hal ini penting untuk menghindari pengulangan pemeriksaan yang tidak penting, membantu persiapan pasien sehingga tidak merugikan pasien dan menyakiti pasien. Pengisian formulir dilakukan secara lengkap meliputi identitas pasien: nama, alamat/ruangan, umur, jenis kelamin, data klinis/diagnosa, dokter pengirim, tanggal dan kalau diperlukan pengobatan yang sedang diberikan. Hal ini penting untuk menghindari tertukarnya hasil ataupun dapat membantu intepretasi hasil terutama pada pasien yang mendapat pengobatan khusus dan jangka panjang.

2. Persiapan Penderita
a. Puasa           
Dua jam setelah makan sebanyak kira-kira 800 kalori akan mengakibatkan peningkatan volume plasma, sebaliknya setelah berolahraga volume plasma akan berkurang. Perubahan volume plasma akan mengakibatkan perubahan susunan kandungan bahan dalam plasma dan jumlah sel darah.

b. Obat
Penggunaan obat dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan hematologi misalnya : asam folat, Fe, vitamin B12 dll. Pada pemberian kortikosteroid akan menurunkan jumlah eosinofil, sedang adrenalin akan meningkatkan jumlah leukosit dan trombosit. Pemberian transfusi darah akan mempengaruhi komposisi darah sehingga menyulitkan pembacaan morfologi sediaan apus darah tepi maupun penilaian hemostasis. Antikoagulan oral atau heparin mempengaruhi hasil pemeriksaan hemostasis.

c. Waktu Pengambilan
Umumnya bahan pemeriksaan laboratorium diambil pada pagi hari terutama pada pasien rawat inap. Kadar beberapa zat terlarut dalam urin akan menjadi lebih pekat pada pagi hari sehingga lebih mudah diperiksa bila kadarnya rendah. Kecuali ada instruksi dan indikasi khusus atas perintah dokter.
Selain itu juga ada pemeriksaan yang tidak melihat waktu berhubung dengan tingkat kegawatan pasien dan memerlukan penanganan segera disebut pemeriksaan sito. Beberapa parameter hematologi seperti jumlah eosinofil dan kadar besi serum menunjukkan variasi diurnal, hasil yang dapat dipengaruhi oleh waktu pengambilan. Kadar besi serum lebih tinggi pada pagi hari dan lebih rendah pada sore hari dengan selisih 40-100 µg/dl. Jumlah eosinofil akan lebih tinggi antara jam 10 pagi sampai malam hari dan lebih rendah dari tengah malam sampai pagi.

d. Posisi pengambilan
Posisi berbaring kemudian berdiri mengurangi volume plasma 10 % demikian pula sebaliknya. Hal lain yang penting pada persiapan penderita adalah menenangkan dan memberitahu apa yang akan dikerjakan sebagai sopan santun atau etika sehingga membuat penderita atau keluarganya tidak merasa asing atau menjadi obyek.

3. Persiapan Alat yang Akan Dipakai
1. Persiapan Alat
Dalam mempersiapkan alat yang akan digunakan selalu diperhatikan instruksi dokter sehingga tidak salah persiapan dan berkesan profesional dalam bekerja.

2. Pengambilan Darah
Yang harus dipersiapkan antara lain, kapas alkohol 70 %, karet pembendung (torniket), spuit sekali pakai umumnya 2.5 ml atau 5 ml, penampung kering bertutup dan berlabel. Penampung dapat tanpa anti koagulan atau mengandung anti koagulan tergantung pemeriksaan yang diminta oleh dokter. Kadang-kadang diperlukan pula tabung kapiler polos atau mengandung antikoagulan.

3. Penampungan Urin
Digunakan botol penampung urin yang bermulut lebar, berlabel, kering, bersih, bertutup rapat dapat steril ( untuk biakan ) atau tidak steril. Untuk urin kumpulan dipakai botol besar kira-kira 2 liter dengan memakai pengawet urin.

4. Penampung khusus
Biasanya diperlukan pada pemeriksaan mikrobiologi atau pemeriksaan khusus yang lain. Yang penting diingat adalah label harus ditulis lengkap identitas penderita seperti pada formulir termasuk jenis pemeriksaan sehingga tidak tertukar.

4. Cara pengambilan sample
Pada tahap ini perhatikan ulang apa yang harus dikerjakan, lakukan pendekatan dengan pasien atau keluarganya sebagai etika dan sopan santun, beritahukan apa yang akan dikerjakan. Selalu tanyakan identitas pasien sebelum bekerja sehingga tidak tertukar pasien yang akan diambil bahan dengan pasien lain. Karena kepanikan pasien akan mempersulit pengambilan darah karena vena akan konstriksi. Darah dapat diambil dari vena, arteri atau kapiler.
 Syarat mutlak lokasi pengambilan darah adalah tidak ada kelainan kulit di daerah tersebut, tidak pucat dan tidak sianosis. Lokasi pengambilan darah vena : umumnya di daerah fossa cubiti yaitu vena cubiti atau di daerah dekat pergelangan tangan. Selain itu salah satu yang harus diperhatikan adalah vena yang dipilih tidak di daerah infus yang terpasang/sepihak harus kontra lateral.
Darah arteri dilakukan di daerah lipat paha (arteri femoralis) atau daerah pergelangan tangan (arteri radialis). Untuk kapiler umumnya diambil pada ujung jari tangan yaitu telunjuk, jari tengah atau jari manis dan anak daun telinga. Khusus pada bayi dapat diambil pada ibu jari kaki atau sisi lateral tumit kaki.

5. Penanganan Awal Sampel dan Transportasi
Pada tahap ini sangat penting diperhatikan karena sering terjadi sumber kesalahan ada disini. Yang harus dilakukan :
1) Catat dalam buku ekspedisi dan cocokan sampel dengan label dan formulir. Kalau sistemnya memungkinkan dapat dilihat apakah sudah terhitung biayanya (lunas).
2) Jangan lupa melakukan homogenisasi pada bahan yang mengandung antikoagulan
3) Segera tutup penampung yang ada sehingga tidak tumpah
4) Segera dikirim ke laboratorium karena tidak baik melakukan penundaan
5) Perhatikan persyaratan khusus untuk bahan tertentu seperti darah arteri untuk analisa gas darah, harus menggunakan suhu 4-8° C dalam air es bukan es batu sehingga tidak terjadi hemolisis.
Harus segera sampai ke laboratorium dalam waktu sekitar 15-30 menit. Perubahan akibat tertundanya pengiriman sampel sangat mempengaruhi hasil laboratorium. Sebagai contoh penundaan pengiriman darah akan mengakibatkan penurunan kadar glukosa, peningkatan kadar kalium. Hal ini dapat mengakibatkan salah pengobatan pasien.
Pada urin yang ditunda akan terjadi pembusukan akibat bakteri yang berkembang biak serta penguapan bahan terlarut misalnya keton. Selain itu nilai pemeriksaan hematologi juga berubah sesuai dengan waktu.






2.4. PERSIAPAN DAN PENGAMBILAN SPESIMEN

1. Pemeriksaan Darah

A. Tempat Pengambilan Darah
1) Perifer (pembuluh darah tepi)
2) Vena
3) Arteri
4) Orang dewasa di ambil pada ujung jari atau daun telinga bagian bawah
5) Bayi dan anak kecil dapat diambil pada ibu jari kaki, tumit, atau daerah kepala

B. Persiapan Alat
1)      Lanset darah atau jarum khusus
2)      Kapas alkohol
3)      Kapas kering
4)      Alat pengukur Hb/ kaca objek/ botol pemeriksaan, tergantung macam pemeriksaan
5)      Bengkok
6)      Hand scoon
7)      Perlak dan pengalas

C. Prosedur Kerja
1)      Mendekatkan alat
2)      Memberi tahu klien dan menyampaikan tujuan serta langkah prosedur
3)      Memasang perlak dan pengalas
4)      Memasang hand scoon
5)      Mempersiapkan bagian yang akan ditusuk, tergantung jenis pemeriksaan
6)      Kulit di hapushamakan dengan kapas alkohol
7)      Lakukan penusukan pada daerah yang telah dipilih
8)      Bekas tusukan ditekan dengan kapas alkohol
9)      Merapikan alat
10)  Melepaskan hand scoon

*      Hindari hemolisis saat pengambilan darah dengan memberi cairan sitrat pada tabung.


Macam–macam pemeriksaan menggunakan spesimen darah
  1. Serum glutamik piruvik transaminase ( SGPT )
Di lakukan untuk mendeteksi adanya kerusakan hepatoseluler  jumlah darah yang di ambil sekitar 5-10 ml dari vena.
  1. Albumin
Mendeteksi kemampuan albumin yang disentesis oleh hepar seperti pada kasus sirosis, luka bakar, gangguan ginjal, atau kehilangan protein dalam jumlah banyak, jumlah darah yang di ambil 5-10 ml dari vena.
  1. Golongan Darah
Dilakukan untuk mendeteksi golongan darah yang terdiri dari golongan darah A, B, AB, dan O. Bahan yang diperlukan : darah, reagen anti A, B, dan AB.
  1. Asam urat
Mendeteksi penyakit ginjal, anemia, asam folat, luka bakar dan kehamilan, peningkatan pada asam urat dapat di indikasikan penyakit seperti leukimia, kanker, eklampsia berat, gagal ginjal, malnutrisi, jumlah darah yang di ambil 5-7 ml dari vena.
  1. Bilirubin ( total, direct, dan indirect )
Mendeteksi kadar bilirubin, pada bilirubin direct mendeteksi adanya ikterik obstruktif, hepatitis dan sirosis sedangkan bilirubin indirect mendeteksi adanya anemia, malaria dan lain-lain, jumlah darah yang diambil 5-10 ml dari darah vena.
  1. Estrogen
Mendeteksi disfungsi ovarium, gejala menopause, serta stress pisikogenik, peningkatan pola estrogen dapat mengindekasi adanya tumor ovarium atau kehamilan, jumlah darah yang di ambil 5-10 ml dari darah vena.
  1. Gas darah arteri
Mendeteksi keseimbangan asam dan basa yang disebabkan oleh gangguan respiratorik atau dengan metabolik. Jumlah darah yang diambil sekitar 1 ml dari estrogen.
  1. Gula darah puasa
Ø    Inspeksi
Mendeteksi adanya diabetes atau reaksi hipoklikemik, jumlah darah yang diperlukan sekitar 5-10ml dari vena.
  1. Gula darah postprandal
Ø  Inspeksi
Mendeteksi adanya diabetes atau reaksi hipoklimemik, pemeriksaan dilakukan setelah makan. Jumlah darah yang di perlukan sekitar 5-10 ml dari vena, 2 jam setelah makan pagi atau siang.
  1. Human Chorionic Gonadotropi ( HCG )
Ø  Inspeksi
Mendeteksi adanya kehamilan karena HCG adalah hormon yang diproduksi oleh plasenta, jumlah darah yang diperlukan sekitar 5-10 ml dari vena.
  1. Hematokrik
Ø  Inspeksi
Mendeteksi adanya anemia, kehilangan darah, ginjal kronik serta  defisiensi vit B, peningkatan hematokrik adanya dehidrasi, asidosis, trauma dan lain-lain, jumlah darah yang diperlukan sekitar 5-10 ml dari vena.
  1. Hemoglobin ( Hb )
     Mendeteksi adanya anemia dan penyakit ginjal, peningkatan Hb. Mengindikasikan adanya dehidrasi, PPOK dan CHF dan lain-lain. Jumlah darah yang diperlukan sekitar 5-10 ml dari vena.
  1. Trombosit
      Mendeteksi adanya trombositopenia yang berhubungan dengan perdarahan dan trombositosis menyebabkan penigkatan pembekuan jumlah darah yang diambil sekitar 5 ml dari vena.
  1. Partlal Tromboplastin Time ( PPT )
      Mendeteksi variasi trombosit, monitor terapi heparia defesiensi faktor pembekuan, jalan darah yang diperlukan sekitar 7-10 ml dari vena, pengambilan 1 jam sebelum pemberian dosis heparin.
  1. Pemeriksaan lainnya yang menggunakan spesimen darah antara lain kadar elektrolit dalam darah, masa protombin, progesteron, prolaktin, serum krolaktin, kortisol, kolesterol, dan lain-lain.

2. Pemeriksaan Urine
A. Kegunaan
      1. Menafsirkan proses-proses metabolisme
      2. Mengetahui kadar gula pada tiap-tiap waktu makan ( padapasien DM )

B. Jenis Pemeriksaan
   1. Urin Sewaktu
            Dikeluarkan sewaktu-waktu bilamana diperlukan pemeriksaan.
   2. Urin Pagi
            Dikeluarkan sewaktu pasien bangun tidur.
   3. Urin Pasca Prandial
      Dikeluarkan setelah pasien makan (1,5 – 3 jam sesudah makan).
4.urin 24 jam
Urin yang dikumpul dalam waktu 24 jam.

C. Persiapan Alat.
1. Formulir khusus untuk pemeriksaan urin
2. Wadahi urin dengan tutupnya
3. Hand scoon
4. Kertas etiket
5. Bengkok
6. Buku ekspedisi untuk pemeriksaan laboratorium.

Beberapa pemeriksaan menggunakan spesimen urin
1. Asam Urat
Mendeteksi penyakit ginjal, eklampsia, keracunan timah hitam, leukimia dengan diet tinggi purin, ulseratif kolitis dan lain-lain, urin yang dibutuhkan tampungan urin 24 jam.

2. Bilirubin
            Mendeteksi penyakit obstruktif saluran empedu, hepar, kanker hepar., urine yang dibutukan sekitar 5 tetes.
3. Human Chorionic Gonatropin
            Mendeteksi adanya kehamilan karena HCG adalah hormon yang diproduksi oleh plasenta, dalam pengambilan urine dianjurkan klien untuk puasa cairan 8-12 jam, urine 24 jam yang diperlukan sekitar 60 ml.

4. Pemeriksaan lainnya yang mengunakan spesimen urine
Ø  Urobilinogen menentukan kerusakan hepar, hemolisis, dan infeksi berat.
Ø  Urinealisis menentukan berat jenis kadar glukosa, keton,dll.
Ø  Kadar protein menentukan kadar kerusakan glomerulus
Ø  Pregnadion menentukan adanya gangguan dalam menstruasi dan penilai adanya ovulasi.

3. Pemeriksaan Faeces
A. Pengertian
            Menyiapkan faeses untuk pemeriksaan laboratorium dengan cara pengambilan yang tertentu.

B. Tujuan
            Untuk menegakan diagnosa dengan cara mendeteksi adanya kuman Salmonella, Shigella, Scherichia Coli, Staphylococcus.

C. Pemeriksaan Faeces (Tinja) untuk Pasien yang Dewasa
            Untuk pemeriksaan lengkap meliputi warna, bau, konsistensi, lendir, darah, dan telur cacing. Tinja yang diambil adalah tinja segar.

D. Persiapan alat
1. Hand scoon bersih
2. Vasseline
3. Botol bersih dengan tutup
4. Lidi dengan kapas lembab dalam tempatnya
5. Bengkok
6. Perlak pengalas
7. Tissue
8. Tempat bahan pemeriksaan
9. Sampiran

E. Prosedur Tindakan
1. Mendekatkan alat
2. Memberi tahu pasien
3. Mencuci tangan
4. Memasang perlak pengalas dan sampiran
5. Melepas pakaian bawah pasien
6. Mengatur posisi dorsal recumbent
7. Memakai Hand scoon
8. Telunjuk diberi vaselin lalu dimasukkan kedalam anus dengan arah ke atas kemudian diputar ke kiri dan ke kanan sampai teraba tinja
9. Setelah dapat, dikeluarkan perlahan-lahan lalu dimasukkan kedalam tempatnya
10. Anus dibersihkan dengan kapas lembab dan keringkan dengan tissue
11. Melepas hand scoon
12. Merapikan pasien
13. Mencuci tangan. Untuk pemeriksaan kultur (pembiakan) pengambilan tinja dengan cara steril. Caranya sama dengan cara thoucer, tetapi alat-alat yang digunakan dalam keadaan steril.

4. Pengambilan Sputum
A. Pengertian
            Sputum adalah bahan yang keluar dari bronchi atau trakea, bukan ludah atau lendir yang keluar dari mulut, hidung atau tenggorokan.

B. Tujuan
            Mengetahui basil tahan asam dan mikroorganisme yang ada dalam tubuh pasien sehingga diagnosa dapat ditentukan.

C. Indikasi
            Pasien yang mengalami infeksi atau peradangan saluran pernafasan (apabila diperlukan).

D. Persiapan Alat
1. Sputum pot (tempat ludah) yang bertutup
2. Botol bersih dengan penutup
3. Hand scoon
4. Formulir dan etiket
5. Perlak pengalas
6. Bengkok dan tissue

E. Prosedur Tindakan
1. Menyiapkan alat
2. Memberitahu pasien
3. Mencuci tangan
4. Mengatur posisi duduk
5. Memasang perlak pengalas dibawah dagu dan menyiapkan bengkok
6. Memakai hand scoon
7. Meminta pasien membatukkan dahaknya ke dalam tempat yang sudah disiapkan (sputum pot)
8. Mengambil 5 cc bahan., lalu masukkan ke dalam botol
9. Membersihkan mulut pasien
10. Merapikan pasien dan alat
11. Melepas hand scoon
12. Mencuci tangan

5. Pengambilan spesimen cairan vagina (pap smear)
Pap smear adalah pemeriksaan sitologi yang digunakan untuk mendeteksi adanya kanker serviks atau sel prakanker, mengkaji efek pemberian hormon seks, serta respon terhadap kemoterapi dan radiasi.

A. Persiapan Pengambilan Spesimen Cairan Vagina

1. Alat dan Bahan

a.  Kapas lidi steril atau aose
b. Gelas obyek
c.  Bengkok
d.       Sarung tangan
e.  Spekulum
f.  Kain kassa, kapas sublimat
g. Perlak
B. Prosedur Pelaksanaan        
1.      Memberitahu dan menjelas kan kepada pasien  tindakan yang akan dilakukan
2.      Menyiapkan alat dan bahan membawa ke dekat  pasien
3.      Memasang sampiran
4.      Membuka atau menganjurkan pasien  menanggalkan pakaian bawah (tetap jaga privacy pasien)
5.      Memasang pengalas dibawah bokong pasien
6.      Mengatur posisi pasien  dengan kaki ditekuk (dorsal recumbent)
7.      Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir mengeringkan dengan handuk bersih
8.      Memakai sarung tangan
9.      Buka labia mayora dengan ibu jari  dan jari telunjuk tangan yang tidak dominan
10.  Mengambil sekret vagina dengan kapas lidi dan tangan yang dominan sesuai kebutuhan
11.  Menghapuskan sekret vagina pada gelas obyek yang disediakan
12.  Membuang kapas  lidi dalam bengkok
13.  Memasukkan gelas obyek dalam piring petri atau  ke dalam tabung kimia dan ditutup
14.  Memberi label dan mengisi formulir  pengiriman  spesimen  untuk dikirim  ke laboratorium
15.  Membereskan alat
16.  Melepas sarung tangan
17.  Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir serta mengeringkannya dengan handuk  bersih
18.  Melakukan dokumentasi tindakan yang telah dilakukan









BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Pemeriksaan laboratorium adalah suatu tindakan dan prosedur tindakan dan pemeriksaan khusus dengan mengambil bahan atau sample dari penderita dapat berupa urine (air kencing), darah, sputum (dahak), atau sample dari hasil biopsy. (www.dokter.indo.net.id).

Terdapat 3 faktor utama yang dapat mengakibatkan kesalahan hasil laboratorium yaitu:
1.   Pra intrumentasi              : sebelum pemeriksaan
2.   Instrumentasi                   : saat pemeriksaan (analisa)
3.   Pasca instrumentasi         : saat menulis hasil pemeriksaan

Banyak sekali tujuan dari pemeriksaan laboratorium antara lain sebagai berikut.
1. Mendeteksi penyakit
2. Menentukan risiko
3. Skrining/uji saring adanya penyakit subklinis
4. Konfirmasi pasti diagnosis
5. Menemukan kemungkinan diagnostik yang dapat menyamarkan gejala klinis
6. Membantu pemantauan pengobatan
7. Menyediakan informasi prognostic/perjalanan penyakit
8. Memantau perkembangan penyakit
9. Mengetahui ada tidaknya kelainan/penyakit yang banyak dijumpai dan potensial membahayakan
10. Memberi ketenangan baik pada pasien maupun klinisi karena tidak didapati penyakit
Setiap pemeriksaan spesimen dalam pemeriksaan laboratorium harus dilakukan persiapan, prosedur, dan analisa yang tepat dan akurat.

3.2. SARAN
Demikianlah makalah ini kami buat sebaik–baiknya namun sebagai manusia penulis selalu tidak lepas dari kesalahan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun penulis sangat diharapkan untuk menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua, amin.


























DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, Eny Retna, dkk. 2009. KDPK Kebidanan Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Nuha Medika

Eko, Nurul, dkk. 2010. KDPK (Keterampilan Dasar Praktik Klinik) Kebidanan.Yogyakarta: Pustaka Rihamna

Kusmiyati, Yuni. 2008. Penuntun Belajar Keterampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya

Uliyah, Musrifatul, dkk. 2008. Keterampilan Dasar Praktik Klinik untuk Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika

                                                                                           
http://www.dokter.indo.net.id
http://www.prodia.co.id





















Ibuku....


LOVE U MY MOM....
Untuk Ibuku Tersayang
            Engkau  adalah sesosok manusia yang terlahir sangat mulia bagiku .Karena adanya dirimu ,aku dapat mengerti tentang arti kasih sayang yang tulus yang telah engkau  ditorehkan  dalam lembaran perjalananku yang sangat tidak bisa  aku bayangkan .Ibu selalu mengajari aku sesuatu yang baru ,dan selalu menemani setiap jejak langkahku .
Semenjak dalam rahim dan sampai sekarang ini aku telah mengenal sosok yang amat aku cintai ,sayangi,dan begitu aku kagumi yaitu ibu yang telah melahirkanku ,merawatku dan membimbingku hingga aku dewasa.Tak pernah bosan aku membayangkan , mengagumi dan berusaha mencontoh kesabaranmu dalam menjalani kehidupan hingga sampai saat ini .          
Arti dirimu ibu,bukan  semata-mata  hanya orang yang melahirkanku ke dunia tetapi engkau  adalah orang yang teladan dalam setiap perilaku,penuh kasih sayang ,yang pantas tuk dihormati dan dijunjung tinggi kedudukannya .Ibu mengajarkan aku akan kejujuran ,selalu membimbingku dengan kasih sayangmu yang tak pernah putus , dan engkau memberikanku keberanian dalam menjalani hidup ini .Jasamu ibu ,sungguh tidak bisa aku balas dengan apapun karena perjuanganmu yang telah sabar dan tulus membesarkanku .             
            Waktu aku kecil ,engkau selalu menjaga dan menuntunku ketika berjalan .Ketika aku terjatuh ,tiada tempat aku mengadu dan menagis kecuali dirimu .Dan ketika aku sakit ,engkau selalu merawat dan menjagaku .Tak ada yang setulus cintamu dan tak ada yang setulus pelukmu ,ibu.
            Cinta ibu akan selalu ada dalam lubuk hatiku  .Ibu selalu memberikan cinta dan kasihnya yang begitu tulus tanpa mengharap apapun .Dari aku kecil sampai aku dewasa ,tak pernah ada kata mengeluh sedikitpun dalam pikiranmu ,engkau terus berjuang ,mendidik,dan mengasihiku . Setiap waktu dan setiap saat  engkau selalu menuang kasih sayang dan ketulusan. Sesungguhnya kasih sayangmu telah merasuki jiwa dan terus menemani setiap gerak derap langkah dan perjalanan hidupku . Tak ada yang bisa menggantikan hatimu ibu.                   
            Tulus cintamu takkan pernah pudar oleh apapun .Kasih sayangmu akan selalu ada dalam hatiku yang terdalam .Takkan pernah bisa pudar ketulusan dan kebaikanmu itu,sebab aku selalu meyayangimu ,dan tidak ada yang bisa menggantikan posisimu karena  dirimu akan selalu ada dalam lubuk hatiku .Cintamu akan selalu tetap ada dan hidup abadi  dalam hatiku selamanya dan akupun tak akan pernah melupakan semua yang indah bersamamu .
            Engkau selalu berjuang tanpa letih ,hanya demi kebahagiaan dan kesuksesanku ,ibu selalu bekerja mencari rupiah demi rupiah tanpa lelah  untukku .Ibu selalu tahu apa yang ada dalam diriku .Kita selalu berbagi cerita ,canda ,tawa dalam suka dan duka .Jika aku terbaring sakit ,ibu selalu memberikan perhatian dan merawatku dengan tulus dan selalu sabar walau dalam keadaan susah .
            Tak sedikit pula engkau berdo’a dan tak sedikit pula engkau mencucurkan air mata dan keringat  untuk mencari rezeki di tengah hiruk pikuk kesusahan yang dihadapi saat ini .Kadang pula aku sering melihat air mata yang begitu suci itu jatuh membasahi pipimu.Ibu selalu mengadu,dan berdo’a pada Yang Maha Kuasa agar aku bisa sukses dan bisa membahagiakan keluarga  dan ia tak lupa  untuk tetap  bersyukur dengan apa yang telah diberikan-Nya saat ini,walaupun keadaan kami yang kini  serba kekurangan . Tiada henti do’a mu ,selalu mengalir dan tetap memberi meski kadang engkau menagis ‘tuk jaga setiap khilafku . Aku percaya dan yakin pada hatiku bahwa kekuatan doa dan kasih sayangmu padaku akan selalu membukakan sebentang harapan dan kebahagiaan bagiku .
            Hatimu bagaikan malaikat yang senantiasa menjagaku dan ketika aku berbuat salah ,engkau selau menasehati dan memaafkanku dan saat aku merasa sepi engkau selalu menyapa dan selalu mendengarkan curhat sedih dan bahagiaku .Aku tak tahu dengan apa dan sikap bagaimanakah aku  harus membalas semua yang telah terpaku dan terpatri kuat dalam jiwa serta tubuhku.Memang sungguh “kasih ibu sepanjang masa”,itulah adanya …!.Ibu memberikan cinta dan kasih sayang itu tulus dari dalam diri dan jiwamu hanya untuk kebahagiaan dan cinta pada anakmu ini .Aku berjanji padamu akan selalu menjaga dan merawat ibu dengan sepenuh jiwaku sebagaimana engkau merawatku dari lahir sampai aku bisa seperti ini ,aku berjanji akan selalu membanggakan dirimu . Cinta dan kasih sayangmu yang begitu tulus takkan pernah bisa aku balas dengan cinta dan kasih sayang yang setimpal.Aku  hanya bisa berbakti,dan berusaha untuk membuatmu bangga .Cintamu adalah cinta yang abadi dan mulia yang takkan lekang oleh waktu. Aku akan berusaha menjadi apa yang selalu engkau inginkan  . Ibu tetaplah menjadi pelita hatiku dan janganlah terhenti do’amu yang mengalir itu .Semoga do’amu akan selalu menaungi setiap langkahku .
“Mom,I am can’t be something if you don’t supporting me…..”
“I Love You ,Mom…..”
                                                                                                    Salam Sayang Selalu,

                                                                                               
                                                                                                               Anakmu

KDPK


BAB I


MATA KULIAH       :  KETERAMPILAN DASAR PRAKTIK KLINIK KEBIDANAN
TOPIK                        :  KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
SUB TOPIK               : 
1.       Prinsip dasar kebutuhan manusia
2.       Pemenuhan kebutuhan fisik
3.       Pemenuhan kebutuhan psikososial

OBJEKTIF PERILAKU SISWA
1.      Pada akhir pembelajaran ini Mahasiswa dapat menjelaskan prinsip dasar kebutuhan dasar manusia dengan benar
2.      Pada akhir pembelajaran ini Mahasiswa dapat menjelaskan kebutuhan fisik manusia dengan benar
3.      Pada akhir pembelajaran ini Mahasiswa dapat menjelaskan kebutuhan psikososial dengan benar
4.      Pada akhir pembelajaran ini Mahasiswa dapat mempraktekan pemenuhan kebutuhan fisik manusia dengan benar
5.      Pada akhir pembelajaran ini Mahasiswa dapat mempraktekan pemenuhan kebutuhan psikososial dengan benar










PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk biopsikososial yang unik dan menerapkan system terbuka serta saling berinteraksi. Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan keseimbangan hidupnya. Keseimbangan yang dipertahankan oleh setiap individu untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, keadaan ini disebut dengan sehat. Sedangkan seseorang dikatakan sakit apabila gagal dalam mempertahankan keseimbangan diri dan lingkungannya. Sebagai makhluk social, untuk mencapai kepuasan dalam kehidupan, mereka harus membina hubungan interpersonal positif . (http://syehaceh.wordpress.com )
Makhluk hidup dapat terus dan berusaha untuk tetap bertahan hidup karena ada dorongan-dorongan kebutuhan dalam tubuhnya. Manusia yang mempunyai keunggulan ruh dan otak dibandingkan dengan makhluk yang lain, pun mempunyai dorongan-dorongan dari dalam dirinya, yaitu berupa kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhinya. Tetapi, bila keunggulan yang dipunyai manusia tak dapat dioptimalkan pemanfaatannya, manusia dapat turun derajatnya melebihi binatang. Tak sedikit manusia yang tak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara benar, menghalalkan segala cara untuk memuaskan dorongan nafsunya. Dan tak jarang pula, manusia yang terhimpit oleh desakan kebutuhannya, bila tak dapat memenuhinya, memilih mengakhiri hidupnya. Bunuh diri hanya dilakukan oleh manusia, yang diberi keunggulan ruh & otak oleh Penciptanya. Tak pernah terdengar bahwa ada makhluk lain selain manusia yang memilih jalan tragis tersebut. (Syukri, 2003).
Dengan memperhatikan latar belakang diatas, kita dapat mengetahui betapa pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar bagi setiap manusia. Oleh karena itu sebagai seorang petugas kesehatan yang professional sudah seharusnya bidan mampu melaksanakan asuhan kebidanan dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar manusia.







BAB I
MATERI

A.     Prinsip Dasar Kebutuhan Manusia
Terdapat dua (2) prinsip dasar kebutuhan manusia yaitu homeostasis dan homeodinamika, dengan penjelasan sebagai berikut :
1.        Homeostasis
Homeostasis merupakan mekanisme tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi barbagai kondisi yang dialaminya. Proses homeostasis ini dapat terjadi apabila tubuh mengalami stress maka tubuh secara alamiah akan melakukan mekanisme untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Homeostasis dapat disebut juga sebagai suatu proses yang terus menerus untuk memelihara stabilitas dan beradaptasi dengan kondisi lingkungan disekitarnya.
Homeostasis fisiologis dalam tubuh manusia dikendalikan oleh system endokrin dan system saraf otonom, terdapat empat (4) cara proses homeostasis fisiologi :
a.        Pengaturan diri (self regulation), suatu proses pengaturan organ tubuh secara otomatis dan terjadi pada orang dalam kondisi sehat.
b.        Kompensasi, yaitu proses reaksi tubuh terhadap ketidaknormalan yang terjadi. Misalnya menggigil merupkan proses menjaga keseimbangan pada saat lingkungan dingin.
c.        Umpan balik negatif, dalam kondisi tidak normal secara otomatis tubuh melakukan mekanisme umpan balik terhadap penyimpangan yang terjadi. Misalnya pada saat tubuh mengalami anemia, maka tubuh member respon dengan adanya pandangan berkunang-kunang.
d.       Umpan balik untuk mengoreksi ketidakseimbangan fisiologis, misalnya dalam kondisi hipoksia maka denyut jantung meningkat dalam upaya meningkatkan peredaran darah dan oksigen ke sel tubuh.
Homeostasis psikologis berfokus pada keseimbangan emosional dan kesejahteraan mental. Proses ini diperoleh melalui pengalaman hidup dan interaksi dengan orang lain serta dipengarhui oleh norma dan kultur masyarakat. Misalnya saat senang maka tertawa, sedih menangis, dsb.
2.        Homeodinamika
Homeodinamika merupakan pertukaran energy secara terus menerus antara manusia dengan lingkungan sekitarnya. Pada proses ini manusia tidak hanya melakukan penyesuaian dengan lingkungan sekitranya, namun terus berinteraksi dengan lingkungan untuk dapat mempertahankan diri. Berikut merupkan prinsip dalam homeodinamika :
a.        Integritas, yaitu prinsip utama dalam hubungan antara manusia dengan lingkungan yang tidak dapat dipisahkan. Sepanjang manusia manusia hidup, maka akan terus terjadi interaksi antara manusia dengan lingkungan yang saling mempengaruhi.
b.        Resonansi, yaitu proses kehidupan selalu berirama dan frekuensinya bervariasi, mengingat manusia memiliki pengalaman beradaptasi dengan lingkungan.
c.        Helicy, yaitu setiap perubahan dalam proses beradaptasi berlangsung secara perlahan.
Factor yang mempengaruhi kebutuhan dasar manusia adalah :
1.        Penyakit, hal ini menyebabkan terjadinya perubahan pemenuhan kebutuhan manusia karena beberapa oragan tubuh memerlukan pemenuhan kebutuhan lebih besar daripada biasanya.
2.        Hubungan keluarga, tergantung apakah manusia dapat membina hubungan keluarga yang baik atau tidak karena dengan adanya hubungan yang baik maka kebutuhan manusia dapat terpenuhi dengan baik.
3.        Konsep diri, apabila manusia dapat menciptakan konsep diri yang positif terhadap dirinya maka manusia dapat memenuhi kebutuhan dengan baik.
4.        Tahap perkembangan, dalam setiap tahap perkembangan manusia memiliki kebutuhan yang berbeda.
Kebutuhan Dasar Menusia (KDM) menurut Abraham Harold Maslow (1908-1970), ahli psikologi yang membagi kebutuhan manusia menjadi 5, sebagai berikut :
1.        Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs), yaitu kebutuhan  makanan, minuman, tempat tinggal dan lain-lain.
2.        Kebutuhan Keamanan (Safety Needs), yaitu kebutuhan akan perlindungan keselamatan terhadap bahaya atau kekerasan, setelah kebutuhan psikologi sudah terpenuhi.
3.        Kebutuhan Sosial (Social Needs) timbul bila kedua kebutuhan sebelumnya telah dipenuhi, yaitu kebutuhan akan afiliasi, persahabatan serta memberi dan menerima kasih sayang/dihargai dengan/dari/oleh orang lain dalam kehidupan sosial masyarakat.
4.        Kebutuhan Prestise (Ego/Esteem Needs), yaitu kebutuhan akan penghargaan untuk penghormatan diri, status, perhatian hingga penerimaan orang lain, yang muncul bila ketiga kebutuhan sebelumnya telah terpenuhi. Menurut Maslow kebutuhan ini jarang dapat dipuaskan.
5.        Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self-Actualization Needs) merupakan kebutuhan terakhir apabila keempat kebutuhan lainnya di atas telah terpenuhi, yang dapat mendorong perilaku seseorang untuk dapat mempertinggi kemampuan kerja.
Menurut Maslow, kebutuhan dasar manusia tersebut adalah berjenjang seperti piramid, yang mempunyai anak-anak tangga kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan harus dipenuhi dari kebutuhan tingkat pertama dan naik ke tangga-tangga kebutuhan berikutnya, tanpa bisa meloncat.
B.      Kebutuhan Fisik
1.        Oksigenasi
Oksigenasi adalah memberikan aliran gas oksigen (O2) lebih dari 21 % pada tekanan 1 atmosfir sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam tubuh. Tujuannya adalah ;
a.        Untuk mempertahankan oksigen yang adekuat pada jaringan
b.       Untuk menurunkan kerja paru-paru
c.        Untuk menurunkan kerja jantung
Anatomi system pernafasan yang bekerja pada tubuh manusia adalah sebagai berikut :
a.         Saluran pernafasan atas, dengan penjelasan sebagai berikut :
-           Hidung, terdiri atas bagian eksternal dan internal. Bagian eksternal menonjol dari wajah dan disangga oleh tulang hidung dan kartilago, sedangkan bagian internal hidung adalah rongga berlorong yang dipisahkan menjadi rongga hidung kanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang sempit, yang disebut septum. Rongga hidung dilapisi dengan membran mukosa yang sangat banyak mengandung vaskular yang disebut mukosa hidung. Permukaan mukosa hidung dilapisi oleh sel-sel goblet yang mensekresi lendir secara terus menerus dan bergerak ke belakang ke nasofaring oleh gerakan silia. Hidung berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan dari paru-paru. Hidung juga berfungsi sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirup ke dalam paru-paru. Hidung juga bertanggung jawab terhadap olfaktori (penghidu) karena reseptor olfaktori terletak dalam mukosa hidung, dan fungsi ini berkurang sejalan dengan pertambahan usia.
-           Faring/tenggorok merupakan struktur seperti tuba yang menghubungkan hidung dan rongga mulut ke laring. Faring dibagi menjadi tiga region : nasal (nasofaring), oral (orofaring), dan laring (laringofaring). Fungsi faring adalah untuk menyediakan saluran pada traktus respiratorius dan digestif.
-           Laring atau organ suara merupakan struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring dan trakea. Laring sering disebut sebagai kotak suara dan terdiri atas : Epiglotis : daun katup kartilago yang menutupi ostium ke arah laring selama menelan; Glotis : ostium antara pita suara dalam laring;  Kartilago tiroid : kartilago terbesar pada trakea, sebagian dari kartilago ini membentuk jakun (Adam's apple); Kartilago krikoid : satu-satunya cincin kartilago yang komplit dalam laring (terletak di bawah kartilago tiroid); Kartilago aritenoid : digunakan dalam gerakan pita suara dengan kartilago tiroid. Pita suara : ligamen yang dikontrol oleh gerakan otot yang menghasilkan bunyi suara (pita suara melekat pada lumen laring). Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi, Laring juga berfungsi melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batu.
-           Trakea disebut juga batang tenggorok, ujung trakea bercabang menjadi dua bronkus yang disebut karina
b.        Saluran pernafasan bawah, dengan penjelasan sebagai berikut :
-          Bronkus, terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri. Disebut bronkus lobaris kanan (3 lobus) dan bronkus lobaris kiri (2 bronkus). Bronkus lobaris kanan terbagi menjadi 10 bronkus segmental dan bronkus lobaris kiri terbagi menjadi 9 bronkus segmental. Bronkus segmentalis ini kemudian terbagi lagi menjadi bronkus subsegmental yang dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki : arteri, limfatik dan saraf.
-          Bronkiolus, bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus. Bronkiolus mengadung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang membentuk selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan napas.
-          Bronkiolus Terminalis, bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis (yang tidak mempunyai kelenjar lendir dan silia).
-          Bronkiolus respiratori, bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respiratori. Bronkiolus respiratori dianggap sebagai saluran transisional antara jalan napas konduksi dan jalan udara pertukaran gas.
-          Duktus alveolar dan Sakus alveolar, bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus alveolar dan kemudian menjadi alveoli.
-          Alveoli, merupakan tempat pertukaran O2 dan CO2. Terdapat sekitar 300 juta yang jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m2. Terdiri atas 3 tipe, yaitu; sel-sel alveolar tipe I : adalah sel epitel yang membentuk dinding alveoli; sel-sel alveolar tipe II : adalah sel yang aktif secara metabolik dan mensekresi surfaktan (suatu fosfolipid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps); sel-sel alveolar tipe III : adalah makrofag yang merupakan sel-sel fagotosis dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan
c.         Paru, merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut.  Terletak dalam rongga dada atau toraks, kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa pembuluh darah besar. Setiap paru mempunyai apeks dan basis, paru kanan lebih besar dan terbagi menjadi 3 lobus oleh fisura interlobaris. Paru kiri lebih kecil dan terbagi menjadi 2 lobus, lobos-lobus tersebut terbagi lagi menjadi beberapa segmen sesuai dengan segmen bronkusnya.
d.        Pleura, merupakan lapisan tipis yang mengandung kolagen dan jaringan elastic. Terbagi mejadi 2, yaitu  : pleura parietalis yaitu yang melapisi rongga dada dan pleura viseralis yaitu yang menyelubungi setiap paru-paru. Diantara pleura terdapat rongga pleura yang berisi cairan tipis pleura yang berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan itu bergerak selama pernapasan, juga untuk mencegah pemisahan toraks dengan paru-paru. Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfir, hal ini untuk mencegah kolap paru-paru

Fisiologi Sistem Pernafasan :
Bernafas / pernafasan merupkan proses pertukaran udara diantara individu dan lingkungannya dimana O2 yang dihirup (inspirasi) dan CO2 yang dibuang (ekspirasi). Proses bernafas terdiri dari 3 bagian, yaitu :
a.        Ventilasi yaitu masuk dan keluarnya udara atmosfir dari alveolus ke paru-paru atau sebaliknya. Proses keluar masuknya udara paru-paru tergantung pada perbedaan tekanan antara udara atmosfir dengan alveoli. Pada inspirasi, dada ,mengembang, diafragma turun dan volume paru bertambah. Sedangkan ekspirasi merupakan gerakan pasif. Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi, yaitu :
-           Tekanan udara atmosfir.
-           Jalan nafas yang bersih.
-           Pengembangan paru yang adekuat
b.       Difusi yaitu pertukaran gas-gas (oksigen dan karbondioksida) antara alveolus dan kapiler paru-paru. Proses keluar masuknya udara yaitu dari darah yang bertekanan/konsentrasi lebih besar ke darah dengan tekanan/konsentrasi yang lebih rendah. Karena dinding alveoli sangat tipis dan dikelilingi oleh jaringan pembuluh darah kapiler yang sangat rapat, membran ini kadang disebut membran respirasi.
Perbedaan tekanan pada gas-gas yang terdapat pada masing-masing sisi membran respirasi sangat mempengaruhi proses difusi. Secara normal gradien tekanan oksigen antara alveoli dan darah yang memasuki kapiler pulmonal sekitar 40 mmHg. Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi, yaitu :
-           Luas permukaan paru.
-           Tebal membran respirasi.
-           Jumlah darah.
-           Keadaan/jumlah kapiler darah.
-           Afinitas.
-           Waktu adanya udara di alveoli
c.        Transpor yaitu pengangkutan oksigen melalui darah ke sel-sel jaringan tubuh dan sebaliknya karbondioksida dari jaringan tubuh ke kapiler.
Oksigen perlu ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida harus ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. Secara normal 97 % oksigen akan berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah dan dibawa ke jaringan sebagai oksihemoglobin. Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel-sel. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transportasi :
-           Curah jantung (cardiac Output / CO).
-           Jumlah sel darah merah.
-           Hematokrit darah.
-           Latihan (exercise).
Faktor-faktor yang mempengaruhi system pernafasan :
a.       Tahap perkembangan, saat lahir terjadi perubahan respirasi yang besar yaitu paru-paru yang sebelumnya berisi cairan menjadi berisi udara. Bayi memiliki dada yang kecil dan jalan nafas yang pendek. Bentuk dada bulat pada waktu bayi dan masa kanak-kanak, diameter dari depan ke belakang berkurang dengan proporsi terhadap diameter transversal. Pada orang dewasa thorak diasumsikan berbentuk oval. Pada lanjut usia juga terjadi perubahan pada bentuk thorak dan pola napas.
b.      Lingkungan, ketinggian, panas, dingin dan polusi mempengaruhi oksigenasi. Makin tinggi daratan, makin rendah PaO2, sehingga makin sedikit O2 yang dapat dihirup individu. Sebagai akibatnya individu pada daerah ketinggian memiliki laju pernapasan dan jantung yang meningkat, juga kedalaman pernapasan yang meningkat. Sebagai respon terhadap panas, pembuluh darah perifer akan berdilatasi, sehingga darah akan mengalir ke kulit. Meningkatnya jumlah panas yang hilang dari permukaan tubuh akan mengakibatkan curah jantung meningkat sehingga kebutuhan oksigen juga akan meningkat. Pada lingkungan yang dingin sebaliknya terjadi kontriksi pembuluh darah perifer, akibatnya meningkatkan tekanan darah yang akan menurunkan kegiatan-kegiatan jantung sehingga mengurangi kebutuhan akan oksigen.
c.       Gaya hidup, aktifitas dan latihan fisik meningkatkan laju dan kedalaman pernapasan dan denyut jantung, demikian juga suplay oksigen dalam tubuh. Merokok dan pekerjaan tertentu pada tempat yang berdebu dapat menjadi predisposisi penyakit paru.
d.      Status kesehatan, pada orang yang sehat sistem kardiovaskuler dan pernapasan dapat menyediakan oksigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Akan tetapi penyakit pada sistem kardiovaskuler kadang berakibat pada terganggunya pengiriman oksigen ke sel-sel tubuh. Selain itu penyakit-penyakit pada sistem pernapasan dapat mempunyai efek sebaliknya terhadap oksigen darah. Salah satu contoh kondisi kardiovaskuler yang mempengaruhi oksigen adalah anemia, karena hemoglobin berfungsi membawa oksigen dan karbondioksida maka anemia dapat mempengaruhi transportasi gas-gas tersebut ke dan dari sel.
e.       Narkotika, seperti morfin dan dapat menurunkan laju dan kedalam pernapasan ketika depresi pusat pernapasan dimedula. Oleh karena itu bila memberikan obat-obat narkotik analgetik, perawat harus memantau laju dan kedalaman pernapasan.
f.       Perubahan pada fungsi pernafasan, fungsi pernapasan dapat terganggu oleh kondisi-kondisi yang dapat mempengaruhi pernapasan yaitu : pergerakan udara ke dalam atau keluar paru, difusi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan kapiler paru, dan transpor oksigen dan transpor dioksida melalui darah ke dan dari sel jaringan.
g.      Perubahan pola pernafasan, pernapasan yang normal dilakukan tanpa usaha dan pernapasan ini sama jaraknya dan sedikit perbedaan kedalamannya. Bernapas yang sulit disebut dyspnoe (sesak). Kadang-kadang terdapat napas cuping hidung karena usaha inspirasi yang meningkat, denyut jantung meningkat. Orthopneo yaitu ketidakmampuan untuk bernapas kecuali pada posisi duduk dan berdiri seperti pada penderita asma.
h.      Obstruksi jalan nafas, dapat terjadi di sepanjang saluran pernapasan di sebelah atas atau bawah. Obstruksi jalan napas bagian atas meliputi : hidung, pharing, laring atau trakhea, dapat terjadi karena adanya benda asing seperti makanan, karena lidah yang jatuh kebelakang (otrhopharing) bila individu tidak sadar atau bila sekresi menumpuk disaluran napas. Obstruksi jalan napas di bagian bawah melibatkan oklusi sebagian atau lengkap dari saluran napas ke bronkhus dan paru-paru. Mempertahankan jalan napas yang terbuka merupakan intervensi keperawatan yang kadang-kadang membutuhkan tindakan yang tepat. Obstruksi sebagian jalan napas ditandai dengan adanya suara mengorok selama inhalasi (inspirasi).
Gangguan atau masalah kebutuhan oksigenasi adalah ;
a.       Hipoksia, merupakan kondisi tidak tercukupinya pemenuhan kebutuhan oksigen dalam tubuh akibat defisiensi oksigen atau peningkatan penggunaan oksigen di tingkat sel yang ditandai dengan kebiruan pada kulit (sianosis). Hipoksia pada umunya disebabkan oleh menurunnya kadar Hb, menurunnya difusi O2 dari alveoli ke dalam darah, menurunnya perfusi jaringan, atau juga karena gangguan ventilasi yang dapat menurunkan konsentrasi O2.
b.      Perubahan pola pernafasan, dikenal dengan beberapa istilah yaitu :
-           Tachypnea, yaitu frekuensi pernafasan >24X/menit yang disebabkan oleh paru mengalami ateleksis atau emboli.
-           Bradynea, pola pernafsan lambat <10X/menit disebakan karena peningkatan tekanan intra cranial yang disertai dengan konsumsi obat-obatan narkotika atau sedative.
-           Hiperventilasi, peningkatan oksigen dalam paru menyebabkan tubuh melakukan mekanisme untuk menyeimbangkan dengan melakukan pernafasan yang cepat dan dalam. Proses ini ditandai dengan adanya peningkatan denyut nadi, nafas pendek, nyeri dada, menurunnya konsentrasi CO2, dll. Keadaan ini dapat disebabkan karena adanya infeksi, ketidakseimbangan asam basa dan gangguan psikologi, keadaan ini dapat menyebabkan hipokapnea (berkurangnya Co2 dalam tubuh di bawab batas normal sehingga rangsangan terhadap pusat pernafasan menurun).
-           Kusmaul, merupakan pola pernafasan yang cepat dan dangkal yang dapat ditemukan pada kondisi asidosis metabolic.
-           Hipoventilasi, merupakan upaya tubuh untuk mengeluarkan CO2 dengan cukup pada saat ventilasi alveolar, serta tidak cukupnya dalam penggunaan O2. Kondisi ini ditandai dengan adanya nyeri kepala, penurunan kesadaran, disorientasi atau ketidakseimbangan elektrolit yang dapat terjadi akibat atelektasis, otot-otot pernafasan lumpuh, depresi pusat pernafasan, tahanan jalan udara pernafasan meningkat, tahanan jaringan paru dan thoraks menurun. Keadaan tersebut dapat menyebabkan hiperkapnea (retensi CO2) sehingga terjadi depresi susunan saraf pusat.
-           Dispnea, merupakan perasaan sesak dan berat saat pernafasan. Penyebabnya bias karena perubahan kadar gas dalam darah/jaringan, kerja berat/berlebihan, pengaruh psikis.
-           Orthopnea, merupakan kesulitan bernafas kecuali pada saat duduk atau berdiri. Biasanya dialami pada kasus kongestif paru.
-           Cheyne stokes, merupakan siklus pernafasan yang amplitudonya mula-mula naik kemudian menurun dan berhenti, kemudian mulai dari siklus yang baru kembali.
-           Pernafasan paradoksial, merupakan pernafasan dimana dinding paru bergerak berlawanan arah dari keadaan normal. Sering ditemukan dalam kondisi ateleksis.
-           Biot, pernafasan yang iramanya mirip dengan cheyne stokes namun amplitudonya tidak teratur. Kondisi ini sering terjadi pada saat adanya rangsangan selaput otak, tekanan intracranial yang meningkat, trauma kepala, dll.
-           Stridor, merupakan pernafasan bising akibat penyempitan saluran pernafasan. Umumnya pada kasus spasme  trachea, obstruksi laring, dll.
c.       Obstruksi jalan nafas, merupakan kondisi individu mengalami ancaman pada kondisi pernafasannya terkait dengan ketidakmampuan batuk secara efektif, yang dapat disebabkan karena sekresi yang kental atau berlebihan akibat penyakit infeksi, immobilisasi, stasis sekresi dan batuk tidak efektif karena penyakit persarafan seperti CVA (cerebro vascular accident), akibat efek pengobatan sedative, dll. Tanda klinis yang tampak adalah :
-           Batuk tidak efektif atau tidak ada.
-           Tidak mampu mengeluarkan sekresi di jalan nafas
-           Suara nafas menunjukan sumbatan.
-           Jumlah, irama, dan kedalaman pernafasan tidak normal.
d.      Pertukaran gas, merupakan suatu kondisi individu mengalami penurunan gas baik O2 maupun CO2 antara alveoli paru dan system vascular dapat disebabkan oleh sekresi yang kental dan imobilisasi akibat penyakit system saraf, depresi susunan saraf pusat, atau penyakit radang pada paru. Kondisi ini menunjukan penurunan kapasitas difusi yang antara lain disebabkan karena menurunnya luas permukaan difusi, menebalnya membrane alveolar kapiler, rasio ventilasi perfusi tidak baik dan dapat menyebabkan pengangkutan O2 dari paru ke jaringan tergganggu, anemia, keracuana CO2, dan terganggunya aliran darah. Tanda klinis yang muncul :
-           Dispnea pada usaha nafas
-           Nafas dengan bibir pada fase ekspirasi yang panjang
-           Agitasi
-           Lelah, letargi
-           Meningkatnya tahanan vascular paru
-           Menurunnya saturasi O2 dan meningkatnya PCO2
-           Sianosis
Tindakan untuk mengatasi gangguan pernafasan adalah :
a.       Latihan nafas, merupakan cara bernafas untuk memperbaiki ventilasi alveoli atau pertukaran gas, mencegah ateleksis, meningkatkan efisiensi batuk, dan dapat digunakan untuk mengurangi stress. Prosedur kerjanya adalah :
-           Cuci tangan.
-           Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
-           Atur posisi pasien (duduk/tidur terlentang).
-           Anjurkan untuk mulai latihan dengan cara menarik nafas dahulu melalui hidung dengan mulut tertutup.
-           Kemudian anjurkan untuk menahan nafas selama 1 – 1,5 detik dan disusul dengan menghembuskan nafas melalui bibir dengan bentuk mulut mencucu atau seperti orang sedang meniup.
-           Catat respon yang terjadi.
-           Cuci tangan.
b.      Latihan batuk efektif, merupakan cara untuk melatih pasien yang tidak memiliki kemampuan batuk secara efektif dengan tujuan untuk membersihkan laring, trakea, dan bronkiolus dari secret atau benda asing di jalan nafas. Prosedur kerja :
-           Cuci tangan.
-           Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
-           Atur posisi pasien dengan duduk di tepui tempat tidur membungkuk ke dapan.
-           Anjurkan untuk menarik nafas secara pelan dan dalam menggunakan pernafasan diafragma.
-           Setelah itu tahan nafas kurang lebih 2 detik.
-           Batukan 2 kali dengan mulut terbuka.
-           Tarik nafas dengan ringan.
-           Istirahat.
-           Catat respons yang terjadi.
-           Cuci tangan.
c.       Pemberian O2
Merupakan tindakan pemberian O2 ke dalam paru dengan menggunakan alat bantu, yaitu kanula, nasal dan masker.
Alat dan bahan :
-           Tabung O2 lengkap dengan flowmeter dan humidifier.
-           Nasal kateter, kanula, atau masker.
-           Vaselin/lubrikan atau pelumas (jelly).
Prosedur kerja :
-           Cuci tangan.
-           Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
-           Cek flowmeter dan humidifier.
-           Hidupkan tabung O2.
-           Atur posisi pasein dengan semifowler atau sesusi dengan kondisi pasien.
-           Berikan O2 melalui kanula atau masker.
-           Apabila menggunakan kateter, ukur terlebih dahulu jarak hidung dengan telinga kemudian beri lubrikan dan dimasukan pada lubang hidung.
-           Catat pemberian dan lakukan observasi.
-           Cuci tangan.
d.      Fisioterapi dada
Merupakan tindakan dengan melakukan postural drainage, clapping, dan vibrating pada pasien dengan gangguan system pernafasan dengan tujuan meningkatkan efisiensi pola pernafasan dan membersihkan jalan nafas.
Alat dan bahan :
-           Pot sputum berisi desinfektan.
-           Kertas tisu.
-           2 balok tempat tidur (untuk postural drainage).
-           1 bantal (untuk postural drainage).
Prosedur kerja :
Postural drainage ;
-           Cuci tangan.
-           Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan.
-           Miringkan ke kiri (untuk membersihkan bagian paru kanan).
-           Miringkan ke kanan (untuk membersihkan bagian paru kiri).
-           Miringkan ke kiri dan tubuh bagian belakang kanan disokong dengan satu bantal (untuk membersihkan bagian lobus tengah).
-           Lakukan postural drainage kurang lebih 10 – 15 menit.
-           Observasi tanda vital selama prosedur.
-           Setelah dilakukan postural drainage dilakukan clapping, vibrating, dan suction.
-           Lakukan hingga lendir bersih.
-           Catat respons yang terjadi.
-           Cuci tangan.
Clapping :
-           Cuci tangan.
-           Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan.
-           Atur posisi sesuai kondisi yang diinginkan.
-           Lakukan clapping dengan cara kedua tangan perawat menepuk punggung pasien secara bergantian hingga ada rangsangan batuk.
-           Bila pasien sudah batuk, berhenti sebentar dan anjurkan menampung pada pot sputum.
-           Lakukan hingga lendir bersih.
-           Catat respons yang terjadi.
-           Cuci tangan.
Vibrating :
-           Cuci tangan.
-           Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan.
-           Atur posisi sesuai kondisi yang diinginkan.
-           Lakukan vibrating dengan cara anjurakn pasien untuk menarik nafas dalam dan meminta pasien untuk mengeluarkan nafas perlahan-lahan. Kedua tangn perawat diletakan di atas bagian samping depan dari cekungan iga kemudian getarkan secara perlahan-lahan dan lakukan berkali-kali hingga pasien ingin membatukan..
-           Bila pasien sudah batuk, berhenti sebentar dan anjurkan menampung pada pot sputum.
-           Lakukan hingga lendir bersih.
-           Catat respons yang terjadi.
-           Cuci tangan.
e.       Lakukan penghisapan lendir
Penghuisapan lendir (suction) merupakan tindakan pada pasien yang tidak mampu mengeluarkan secret atau lendir secara sendiri, dengan dilakukan suction diharapkan dapat membersihkan jalan nafas dari lendir dan terpenuhi kebutuhan O2.
Alat dan bahan :
-           Alat penghisap lendir dengan botol berisi larutan desinfektan.
-           Kateter penghisap lendir.
-           Pinset steril.
-           Sarung tangan steril.
-           Dua buah kom berisi larutan aquades atau NaCL 0,9% dan berisi larutan desinfektan.
-           Kasa steril.
-           Kertas tisu.
Prosedur kerja :
-           Cuci tangan.
-           Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan.
-           Atur posisi pasien dengan posisi terlentang dengan kepala miring kearah petugas.
-           Gunakan sarung tangan.
-           Hubungkan kateter penghisap dengan dengan selang penghisap.
-           Hidupkan mesing penghisap.
-           Lakukan penghisapan lendir dengan memasukan kateter penghisap ke dalam kom berisi aquades atau NaCL 0,9% untuk mencegah trauma mukosa.
-           Masukan katetr penghisap dalam keadaan tidak menghisap.
-           Tarik dengan memutar kateter penghisap 3-5 detik.
-           Bilas kateter dengan aquades atau NaCL 0,9%.
-           Lakukan hingga lendir bersih.
-           Catat respons yang terjadi.
-           Cuci tangan.

2.        Nutrisi
Saluran pencernaan :
a.        Mulut, merupakan bagian awal saluran pencernaan yang terdiri atas dua bagian luar (vestibula) yaitu ruang diantara gusi, gigi bibir, pipi, dan bagian dalam yang terdiri atas rongga mulut. Di dalam mulut terjadi mekanisme mengunyah makanan dengan  bantuan enzim amylase dan pembentukan saliva.
b.        Faring dan esophagus, faring terletak di belakang hidung, mulut dan laring serta langsung berhubungan dengan esophagus. Sedangkan esophagus berfungsi menghantarkan makanandari faring menuju lambung dan berfungsi sebagai sfingter yang mencegah makanan bergerak kembali ke organ atas.
c.        Lambung, mempunyai dua fungsi yaitu fungsi motoris sebagai penampung makanan, memecah makanan menjadi partikel kecil dan mencampurnya dengan asam lambung. Serta fungsi sekresi yaitu mensekresi pepsin dan HCi yang akan memecah protein menjadi pepton.
d.       Usus halus, fungsi utamanya adalah mencerna dan mengabsorbsi chime dari lambung, sebagai tempat pengabsorbsian makanan.
e.        Usus besar, disebut juga sebagai kolonadalah sambungan dari usus halus. Fungsi utamanya adalah mengabsorbsi air (kurang 90%), elektrolit, vitamin dan sedikit glukosa. Sedangkan flora yang terdapat pada usus besar berfungsi untuk mensintesis vitamin K dan B sertab memungkinkan pembusukan sisa makanan.
Organ pendukung :
a.       Hati, berfungsi penghasil sel fagositosis pada empedu, menghasilkan cairan, membuat sel darah merah dan menyimpan glikogen.
b.      Kantong empedu, sebagai tempat menyimpan cairan empedu dan memekatkan cairan empedu dengan member pH yang sesuai dengan pH optimum, mengeksekresi beberapa zat yang sudah tidak digunakan oleh tubuh.
c.       Pancreas, mempunyai dua fungsi yaitu fungsi eksokrin yang dilaksanakan oleh sel sekretoriyang membentuk getah pancreas berisi enzim dan elektrolit, serta fungsi endokrin.