Total Tayangan Halaman

Minggu, 25 September 2011

KOMUNIKASI INTERPERSONAL


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Di Era globalisasi ini kita mengenal berbagai jenis komunikasi seperti komunikasi intrapersonal, komunikasi interpersonal, komunikasi massa, dan komunikasi kelompok.
Salah satu yang paling sering digunakan adalah komunikasi intrapersonal (komunikasi dengan diri sendiri). Di dunia hampir 37 % setelah komunikasi interpersonal yang berpersentase 42 %. Komunikasi Intrapersonal sendiri dapat dilihat dari keadaan merenung, bermeditasi, berpikir, dan lain sebagainya.
Di kehidupan sehari-haripun komunikasi menempati posisi yang dianggap begitu penting karena pengambilan keputusan paling banyak diambil dari hasil komunikasi intrapersonal, yakni sekitar 45%. (Aton, 2010; page 1)
Dari penjelasan di atas penulis tertarik untuk membahas tentang masalah komunikasi intrapersonal yang diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan bagi penulis maupun pembaca.

B.     TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.     Tujuan Umum
            Dapat menambah dan pengetahuan tentang komunikasi intrapersonal
2.      Tujuan Khusus
a. Penulis mampu memahami pengertian komunikasi
b. Penulis mampu memahami komunikasi intrapersonal
c. Penulis mampu memahami teori-teori dalam komunikasi intrapersonal
d. Penulis mampu memahami tahap-tahap komunikasi intrapersonal

C.   MANFAAT
Adapun manfaat dari makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang Komunikasi Intrapersonal
2.      Sebagai referensi dalam proses belajar-mengajar


















                                                                                    





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.  PENGERTIAN KOMUNIKASI
Istilah komunikasi atau dalam bahasa inggris “communication” dan berasal dari bahasa latin ‘commnucation”, serta bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama di sini adalah sama makna maksudnya.
(Effendy, 2005; 13)

B. KOMUNIKASI INTRAPERSONAL
Komunikasi intrapersonal pada hakikatnya adalah jenis komunikasi ditinjau dari segi tatanannya. (Effendy, 2003; 53)
Komunikasi intrapersonal adalah proses pengolahan informasi. Proses ini melewati empat tahap; sensasi, persepsi, memori, dan berpikir. Proses pertama dari komunikasi intrapersonal terjadi pada saat sensasi terjadi. Sensasi, yang berasal dari kata sense, berarti kemampuan yang dimiliki manusia untuk mencerap segala hal yang diinformasikan oleh pancaindera. Informasi yang diserap oleh pancaindera disebut stimuli yang kemudian melahirkan proses sensasi. Dengan demikian sensasi adalah proses menangkap stimuli.
(Rakhmat, 1998; 49)
Komunikasi intrapersonal adalah penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan. (Aton, 2010; page 1)
C. TEORI-TEORI KOMUNIKASI INTRAPERSONAL
  1. Teori Interferensi (Interferensi Theory)
Menurut teori ini, memori merupakan meja lilin atau kanvas. Pengalaman adalah lukisan pada meja lilin atau kanvas. Katakanlah pada kanvas itu sudah terlukis hukum relativis. Segera setelah itu anda mencoba merekam hukum medan gabungan yang kedua akan menyebabkan terhapusnya rekaman pertama atau mengaburkannya. Ini disebut Interferensi.
(Rakhmat, 1998; 65-66)
2. Psikologi Sosial
Psikologi sosial adalah suatu studi ilmiah tentang pengalaman dan tingkah laku individu-individu dalam hubungan dengan situasi sosial. Latar belakang timbulnya psikologi sosial berasal dari beberapa pandapat, misalnya Gabriel Tarde mengatakan, pokok-pokok teori psikologi sosial berpangkal pada proses imitasi sebagai dasar dari pada interaksi sosial antar manusia.
Gustave Le Bon berpendapat bahwa pada manusia terdapat dua macam jiwa yaitu jiwa individu dan jiwa massa yang masing-masing berlainan sifatnya. Sigmund Freud berbeda dengan Le Bon, ia berpendapat bahwa jiwa massa itu sebenarnya sudah terdapat dan tercakup oleh jiwa individu, hanya saja tidak disadari oleh manusia itu sendiri karena memang dalam keadaan terpendam.
Pada tahun 1950 dan 1960 psikologi social tumbuh secara aktif dan program gelar dalam psikologi dimulai disebagian besar universitas. Dasar mempelajari psikologi social bedasarkan potensi-potensi manusia dimana potensi ini mengalami proses perkembangan setelah individu itu hidup dalam lingkungan. Potensi-potensi itu antara lain :
a.       Kemampuan menggunakan bahasa
b.      Adanya sikap etik
c.       Hidup dalam 3 dimensi
3. Teori Pengolahan Informasi
Supaya dapat diingat, informasi harus dapat disandi (encoded) dan masuk pada STM. STM hanya mampu mengingat tujuh (plus atau minus dua) bit informasi. Jumlah bit informasi disebut rentangan memori (memori span). Untuk meningkatkan kemampuan STM, para psikolog menganjurkan kita untuk mengelompokkan informasi; kelompoknya disebut chunk.
Bila informasi dapat dipertahankan pada STM, ia akan masuk pada LTM. Inilah yang umumnya disebut sebagai ingatan. LTM meliputi periode penyimpanan informasi sejak semenit sampai seumur hidup. Kita dapat memasukkan informasi dari STM ke LTM dengan chunking, rehearsals, clustering, atau method of loci.
4. Teori Aus Processing
Teori ini menyatakan bahwa informasi mula-mula disimpan pada sensory storage (gudang inderawi), kemudian masuk short-term-memory (STM) lalu dilupakan atau dikoding untuk dimasukkan ke dalam long-term-memory (LTM). Otak manusia dianalogikan dengan komputer.
Terdapat dua macam memori: memori ikonis untuk materi yang kita peroleh secara visual, dan memori ekosis untuk materi yang masuk secara auditif (melalui pendengaran)
Menurut teori ini, memori hilang atau memudar karena waktu. Seperti otot, memori kita baru kuat bila dilatih terus menerus. Namun menurut Hunt, makin sering mengingat, makin jelek kemampuan mengingat. Dimana tidak selamanya waktu dapat mengauskan memori. (Aton, 2010; page 1)
D. TAHAP-TAHAP KOMUNIKASI INTRAPERSONAL
Dalam komunikasi intrapersonal, akan dijelaskan bagaimana orang menerima informasi, mengolahnya, menyumpannya dan menghasilkannya kembali. Proses pengolahan informasi, yang di sini kita sebut komunikasi intrapersonal meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berpikir.

1. Sensasi
Sensasi berasal dari kata “sense” yang artinya alat penginderaan, yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya. Menurut Dennis Coon, “Sensasi adalah pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal. Simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indera.”
Definisi sensasi, fungsi alat indera dalam menerima informasi dari lingkungan sangat penting. Kita mengenal lima alat indera atau pancaindera. Kita mengelompokannya pada tiga macam indera penerima, sesuai dengan sumber informasi. Sumber informasi boleh berasal dari dunia luar (eksternal) atau dari dalam diri (internal). Informasi dari luar diindera oleh eksteroseptor (misalnya, telinga atau mata). Informasi dari dalam diindera oleh ineroseptor (misalnya, system peredaran darah). Gerakan tubuh kita sendiri diindera oleh propriseptor (misalnya, organ vestibular). (Ahmad, 2009; page 1)
               Sensasi adalah pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal, simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indera. Fungsi alat indera dalam menerima informasi dari lingkungan sangat penting, melalui alat indera, manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungannya. Tanpa alat indera manusia sama, bahkan mungkin lebih dari rumput-rumput, karena rumput-rumput dapat juga mengindera cahaya dan humiditas
               Membicarakan faktor situsionar yang mempergaruhi sensasi. Ketajaman sensasi juga ditentukan oleh faktor-faktor personal, dan perbedaan sensasi disebabkan oleh perbedaan pengalaman atau lingkungan budaya, disamping kapasitas alat indera yang berbeda. (Rakhmat, 1998; 63-64)
2. Persepsi
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Sensasi adalah bagian dari persepsi. Persepsi, seperti juga sensasi ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional. Faktor lainnya yang memengaruhi persepsi, yakni perhatian. Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah


a. Faktor Eksternal Penarik Perhatian
Hal ini ditentukan oleh faktor-faktor situasional personal. Faktor situasional terkadang disebut sebagai determinan perharian yang bersifat eksternal atau penarik perhatian (attention getter) dan sifat-sifat yang menonjol, seperti :
1)      Gerakan secara visual tertarik pada objek-objek yang bergerak. Intensitas Stimuli, kita akan memperhatikan stimuli yang menonjol dari stimuli yang lain
2)      Kebauran (Novelty), hal-hal yang baru dan luar biasa, yang beda, akan menarik perhatian.
3)      Perulangan, hal-hal yang disajikan berkali-kali bila disertai sedikit variasi akan menarik perhatian.
b. Faktor Internal Penaruh Perhatian
Apa yang menjadi perhatian kita lolos dari perhatian orang lain, atau sebaliknya. Ada kecenderungan kita melihat apa yang ingin kita lihat, dan mendengar apa yang ingin kita dengar. Perbedaan ini timbul dari faktor-faktor yang ada dalam diri kita. Contoh-contoh faktor yang memengaruhi perhatian kita adalah :
1)            Faktor-faktor Biologis
2)            Faktor-faktor Sosiopsikologis.
3)            Motif Sosiogenis, sikap, kebiasaan, dan kemauan, mempengaruhi apa yang kita perhatikan.

Kenneth E. Andersen, menyimpulkan dalil-dalil tentang perhatian selektif yang harus diperhatikan oleh ahli-ahli komunikasi.
a)      Perhatian itu merupakan proses aktif dan dinamis, bukan pasif dan refleksif.
b)      Kita cenderung memerhatikan hal-hal tertentu yang penting, menonjol, atau melibatkan kita.
c)      Kita menaruh perhatian kepada hal-hal tertentu sesuai dengan kepercayaan, sikat, nilai, kebiasaan, dan kepentingan kita.
d)     Kebiasaan sangat penting dalam menentukan apa yang menarik perhatian, tetapi juga apa yang secara potensial akan menarik perhatian kita.
e)      Dalam situasi tertentu kita secara sengaja menstrukturkan perilaku kita untuk menghindari terpaan stimuli tertentu yang ingin kita abaikan.
f)       Walaupun perhatian kepada stimuli berarti stimuli tersebut lebih kuat dan lebih hidup dalam kesadaran kita, tidaklah berarti bahwa persepi kita akan betul-betul cermat.
g)      Perhatian tergantung kepada kesiapan mental kita,
h)      Tenaga-tenaga motivasional sangat penting dalam menentukan perhatian dan persepsi.
i)        Intesitas perhartian tidak konstan
j)        Dalam hal stimuli yang menerima perhatian, perhatian juga tidak konstan.
k)      Usaha untuk mencurahkan perhatian sering tidak menguntungkan karena usaha itu sering menuntut perhatian
l)        Kita mampu menaruh perhatian pada berbagai stimuli secara serentak.
m)    Perubahan atau variasi sangat penting dalam menarik dan memertahankan perhatian. (Ahmad, 2009; page 1)


3. Memori
Dalam komunikasi Intrapersonal, memori memegang peranan penting dalam memengaruhi baik persepsi maupun berpikir. Memori adalah system yang sangat berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya (Schlessinger dan Groves). Memori melewati tiga proses:
a.       Perekaman (encoding) adalah pencatatan informasi melalui reseptor inera dan sirkit saraf internal.
b.      Penyimpanan (strorage) adalah menentukan berapa lama informasi itu berada berserta kita, dalam bentuk apa, dan di mana.
c.       Pemanggilan (retrieval), dalam bahasa sehari-hari, mengingat lagi, adalah menggunakan informasi yang disimpan Pemanggilan diketahui dengan empat cara :
1)      Pengingatan (Recall), Proses aktif untuk menghasilkan kembali fakta dan informasi secara verbatim (kata demi kata), tanpa petunjuk yang jelas.
2)      Pengenalan (Recognition), Agak sukar untuk mengingat kembali sejumlah fakta;lebih mudah mengenalnya.
3)      Belajar lagi (Relearning), Menguasai kembali pelajaran yang sudah kita peroleh termasuk pekerjaan memori.
4)      Redintergrasi (Redintergration), Merekontruksi seluruh masa lalu dari satu petunjuk memori kecil. (Rakhmat, 1998; 63-64)


4. Berpikir
   Dalam berpikir kita melibat semua proses yang kita sebut sensasi, persepsi, dan memori. Berpikir merupakan manipulasi atau organisasi unsure-unsur lingkungan dengan menggunakan lambing-lambang sehingga tidak perlu langsung melakukan kegiatan yang tampak. Berpikir menunjukan berbagai kegiatan yang melibatkan penggunaan konsep dan lambang, sebagai pengganti objek dan peristiwa. Berpikir kita lakukan untuk memahami relaitas dalam rangka mengambil keputusan (decision making), memecahkan persoalan (problem solving). Dan menghasilkan yang baru (creativity).

Ada dua macam berpikir:
a.       Berpikir autistik, dengan melamun, berfantasi, menghayal, dan wishful thinking. Dengan berpikir autistic prang melarikan diri dari kenyataan dan melihat hidup sebagai gambar-gambar fantastis.
b.      Berpikir realistic, disebut juga nalar (reasoning), ialah berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyara. Floyd L. Ruch, menyebutkan tiga macam berpikir realistic :
1)      Berpikir deduktif : mengambil kesimpulan dari dua pernyataan, dalam logika disebutnya silogisme.
2)      Berpikir Induktif : Dimulai dari hal-hal yang khusus kemudian mengambil kesimpulan umum; kita melakukan generalisasi.
3)      Berpikir evaluatif : berpikir kritis, menilai baik-buruknya, tepat atau tidaknya suatu gagasan, kita tidak menambah atau mengurangi gagasan, namun menilainya menurut kriteria tertentu.
(Ahmad, 2009; page 1)
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
         Dari penjelasan dari makalah ini penulis sudah dapat mengerti dan paham mengenai beberapa hal yang merupakan tujuan dari makalah ini diantaranya mengenai pengertian komunikasi, penulis juga sudah memahami komunikasi intrapersonal, teori komunikasi intrapersonal dan tahap-tahap komunikasi intrapersonal
         Adapun pengertian komunikasi adalah komunikasi adalah suatu atau proses penyampaian informasi antar individu atau kelompok, baik secara verbal/inverbal yang dapat menimbulkan respon timbal balik antara pengirim dan penerima informasi.
         Komunikasi intrapersonal adalah proses pengolahan informasi dan penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Beberapa teori dalam komunikasi intrapersonal  yaitu teori interferensi (Interferensi Theory), psikologi sosial, teori pengolahan informasi, dan teori aus processing. Tahapan dalam proses komunikasi intrapersonal ini melewati empat tahap yakni sensasi, persepsi, memori, dan berpikir.
B.  SARAN
Demikianlah makalah ini kami buat sebaik–baiknya namun sebagai manusia penulis selalu tidak lepas dari kesalahan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun penulis sangat diharapkan untuk menyempurnakan makalah ini.
Adapun saran yang dapat diberikan:


1.      Bagi Mahasiswa
                 Diharapkan mahasiswa dapat mengerti dan lebih memahami materi “Komunikasi Intrapersonal” dan sebaiknya mahasiswa lebih banyak mencari referensi pelengkap sehingga menjadi lebih paham akan  materi tersebut.

2.      Bagi Pendidikan
                   Diharapkan makalah ini bisa dijadikan referensi bagi pendidikan dalam proses belajar mengajar dan bagi penulis–penulis berikutnya  sehingga menjadi lebih baik lagi.











DAFTAR PUSTAKA

Ahmad.  2009. Komunikasi Intrapersonal. http://jurusankomunikasi.blogspot.com/2009/05/komunikasi-intrapersonal.html. Diakses tanggal 10 Mei 2011

Aton. 2010. Komunikasi Intrapersonal. http://aton29.wordpress.com/2010/04/27/komunikasi-intrapersonal/.  Diakses tanggal 11 Mei 2011

Effendy, Onong Uchjana. 2003. Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti

Rakhmat, Jalaluddin. 1998. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya




























            SESI TANYA JAWAB

1.      Marisa Fitri (I B)
Pertanyaan :
Dalam Psikologi sosial terdapat potensi-potensi  seperti kemampuan menggunakan bahasa adanya sikap etik dan hidup dalam tiga dimensi. Maksudnya apa ?
Tambahan:
Farahdifa Mardani (IB)
            Tiga potensi ini sebagaimana anda jelaskan tadi bersifat berkaitan dengan orang lain, padahal makalah anda membahas komunikasi intrapersonal (komunikasi dengan diri sendiri). Itu bagaimana ?
Jawaban :
Nur Hidayah (1A)
Dalam psikologi sosial terdapat beberapa potensi seperti:
a.       Kemampuan menggunakan bahasa
      Bahasa merupakan salah satu unsur dalam komunikasi karena bahasa menjadi suatu media cara kita untuk berkomunikasi dengan orang lain. Kemampuan berbahasa seseorang   mempengaruhi dalam keefektifan komunikasi.
b. Adanya sikap etik
 Sikap etik adalah tatakrama/kesopanan dalam berkomunikasi. Sikap etik (cara) kita dalam berkomunikasi dengan tiap orang itu berbeda-beda. Seperti  saat kita berbicara dengan dosen atau dengan orang tua (berbicara) berbeda saat kita berkomunikasi dengan teman.
c. Hidup Dalam Tiga Dimensi
Dalam berkomunikasi itu tidak hanya bersifat tunggal hanya dengan diri sendiri tapi komunikasi intrapersonal ini bersifat kompleks secara tidak disadari. Lingkungan, masyarakat, dan segala aspek berkaitan satu sama lain.

    
Tambahan:
             Dalam psikologi sosial ini, berpendapat bahwa jiwa massa itu sebenarnya sudah terdapat dan tercakup oleh jiwa individu, hanya saja tidak disadari oleh manusia itu sendiri karena memang dalam keadaan terpendam. Jadi itulah alasan mengapa 3 potensi ini yang bersifat sosial ini berkaitan dengan komunikasi intrapersonal.
2.      Arum Puspasari (1A)
Pertanyaan:
            Berpikir adalah manipulasi atau organisasi unsur-unsur lingkungan dengan menggunakan lambang-lambang, maksud dari lambang-lambang itu seperti apa ?
Jawaban :
Nindra Wahana (1A)
            Dalam komunikasi, kita mengenal adanya lambang-lambang, maksudnya informasi yang didapat sebelumnya masih dalam bentuk-bentuk abstrak yang belum terkonsep dalam pikiran dan dapat disimbolkan. Misalnya dalam proses Imitasi (meniru seseorang) baik dalam cara berpakaian atau tingkah laku.
3.    Farahdifa Mardani (1B)
            Apa sebenarnya manfaat komunikasi intrapersonal itu bagi kepribadian diri, dan bagaimana pengaruh pada kemampuan intelegensi ?
Jawaban:
Nur Hidayah (1A)
            Sebagaimana kita ketahui bahwa komunikasi Intrapersonal adalah komunikasi dari diri sendiri dan untuk diri sendiri. Komunikasi intrapersonal sepenuhnya bersifat personal dan terfokus pada pikiran. Misalnya berintropeksi diri, dalam intropeksi diri kita menjadi lebih baik dan melatih kemampuan berpikir dalam pemecahan masalah sendiri dengan cerdas.





4. Desi Winda Wati (1A)
            Mengapa memori sangat penting dalam komunikasi intrapersonal ?
Jawaban:
Irin Rizki Amelia  (1A)
            Sebagaimana kita tahu memori juga adalah kemampuan dalam diri untuk menyimpan, dan mengolah informasi. Memori adalah sistem yang berstruktur, yang menyebabkan otak dan memori sanggup merekam informasi (mengingat) dan menggunakan pengetahuannya dalam berpikir .
5.      Dina Febriani   (1B)
            Hal-hal apa saja yang dapat menyebabkan keefektifan dalam intrapersonal ?
Jawaban:
Husmika Sari (1A)
       Faktor yang mempengaruhi keefektifan komunikasi intrapersonal  yang tak terlepas dari kemampuan sensasi, persepsi, berpikir dan memori dari diri sendiri. Intinya kembali pada diri sendiri dengan kemampuan  dengan berintropeksi dan berkomunikasi diri untuk menjadi lebih baik.
6.      Neni Malisa  (1B)
            Kita mengagumi seseorang, karena orang tersebut memiliki kelebihan, sehingga kita ingin menirunya. Mengapa  kita yang sudah berusaha menirunya, tapi masih tidak bisa. Hambatannya apa yang terjadi dan bagaimana mengatasinya  ?
Jawaban: 
Marcelia Eka Putri (1A)
             Pada permasalahannya ini tergantung dari niat dan tekad diri untuk berubah sepenuhnya menjadi lebih baik. Kita tidak bisa menyamakan setiap kepribadian. Tidak ada  manusia yang sempurna, dan yakinlah akan  kemampuan dan kualitas diri  seseorang  karena itu kita tidak bisa meniru orang lain sama persis. Intinya berusaha untuk jadi diri sendiri  dan harus lebih baik.

 Posted by. Nur Hidayah Devita

DISABILITATION


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Saat ini program kesehatan yang telah ada misalnya pemberantasan penyakit menular/tidak menular, program perbaikan gizi, perbaikan sanitasi lingkungan, upaya kesehatan ibu dan anak, program pelayanan kesehatan dan lain sebagainya sangat perlu ditunjang serta didukung oleh adanya promosi kesehatan sekaligus upaya promotif dan preventif.
Salah satunya adalah disabilitation, disabilitation adalah pembatasan kecacatan dan berusaha untuk menghilangkan gangguan kemampuan bekerja yang diakibatkan suatu masalah kesehatan dan penyakit. Disabilitation ini tidak dapat dipisahkan peranannya dalam 5 upaya promotif dan preventif dari Leavel dan Clark.
Namun saat ini masih banyak yang belum memahami upaya disabilitation ini. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis akan memberikan penjelasan mengenai disabilitation. Diharapkan makalah ini memberikan informasi dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua, amin.

B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
·         Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari makalah ini adalah menambah pengetahuan tentang “Disabilitation Sebagai Upaya Preventif dan Promotif”.
·         Tujuan Umum
1. Sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Kesehatan Reproduksi,
2. Menambah wawasan dan pengetahuan pembaca.



BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Upaya Promotif dan Preventif
Menurut Leavel dan Clark, upaya promotif dan preventif yang disebut juga upaya adalah segala kegiatan yang dilakukan baik langsung maupun tidak langsung untuk mencegah suatu masalah kesehatan/penyakit.
(Romauli, dkk. 2009; 144-145)

B. Manfaat
Upaya promotif dan preventif menurut Leavel dan Clark bermanfaat untuk.
1.      Menurunkan angka kematian
2.      Meningkatkan presentase kasus yang dideteksi dini pada stadium awal
3.      Menurunkan kejadian komplikasi
4.      Menaikan kualitas hidup
(Romauli, dkk. 2009; 144-145)

C. Tingkat-Tingkat Upaya Promotif dan Preventif
Untuk mengatasi permasalahan kesehatan di keluarga dan masyarakat termasuk kesehatan reproduksi perlu memperhatikan prinsip pokok utama promotif dan preventif menurut Leavel dan Clark dalam bukunya preventif medicine for the doctor in his community membagi usaha pencegahan dalam setiap tingkatan, yakni:
a. Masa Sebelum Sakit
1. Health Promotion (menaikan nilai kesehatan)
2. Spesific Protection (memberi perlindungan khusus terhadap suatu masyarakat kesehatan/penyakit)
b. Masa Saat Sakit
1.  Early Diagnosis dan Promotif Treatment (mengenal dan mengetahui jenis penyakit pada tingkat awal) serta mengadakan pengobatan tepat dan segera
2.   Disability Limitation (pembatasan kecacatan dan berusaha untuk menghilangkan gangguan kemampuan bekerja yang diakibatkan suatu masalah kesehatan dan penyakit)
      3.   Rehabilitation
(Suyati, dkk. 2009; 144-145)

D. Disabilitation
      Usaha ini merupakan lanjutan dari usaha early diagnosis and promotif treatment yaitu dengan pengobatan dan perawatan yang sempurna agar penderita sembuh kembali dan tidak cacat (tidak terjadi komplikasi). Bila sudah terjadi kecacatan maka dicegah agar kecacatan tersebut tidak bertambah berat dan fungsi dari alat tubuh yang cacat ini dipertahankan semaksimal mungkin beberapa usaha diantaranya:
1.      Pencegahan terhadap komplikasi dan kecacatan
2.   Pengadaan dan peningkatan fasilitas kesehatan dengan melakukan pemeriksaan lanjut yang lebih akurat seperti pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya agar penderita dapat sembuh dengan baik dan sempurna tanpa ada komplikasi lanjut
  1. Penyempurnaan pengobatan agar tidak terjadi komplikasi
Masyarakat diharapkan mendapatkan pengobatan yang tepat dan benar oleh tenaga kesehatan agar penyakit yang dideritanya tidak mengalami komplikasi. Selain itu, untuk mencegah terjadinya komplikasi maka penderita yang dalam tahap pemulihan, dianjurkan untuk berkunjung ke fasilitas kesehatan secara rutin untuk melakukan pemeriksaan rutin agar penderita sembuh secara sempurna.
(Romauli, dkk. 2009; 144-145)
Pembatasan cacat (disability limitation) pada tahap ini cacat yang terjadi diatasi, terutama untuk mencegah penyakit menjadi berkelanjutan hingga mengakibatkan terjadinya cacat yang lebih buruk lagi.
(Wilianto, 2010; page I)

Oleh karena kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan penyakit maka sering masyarakat tidak melanjutkan pengobatannya sampai tuntas. Dengan kata lain mereka tidak melakukan pemeriksaan dan pengobatan yang komplit terhadap penyakitnya.
Pengobatan yang tidak layak dan sempurna dapat mengakibatkan orang yang bersangkutan cacat/ketidakmampuan. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan juga diperlukan dalam tahap ini.
Penanganan secara tuntas pada kasus-kasus infeksi organ reproduksi mencegah terjadinya infertilitas.
(Yuni,dkk. 2009; 157)
Pembatasan cacat (disability limitation) pada tahap ini cacat yang terjadi diatasi, terutama untuk mencegah penyakit menjadi berkelanjutan hingga mengakibatkan terjadinya cacat yang lebih buruk lagi.
(Santi, 2011; page I)
Pembatasan kecacatan (disability limitation)
1.      Penyempurnaan dan intensifikasi pengobatan lanjutan agar terarah dan tidak menimbulkan komplikasi
2.      Pencegahan terhadap komplikasi dan kecacatan
3.      Perbaikan fasilitas kesehatan sebagai penunjang untuk dimungkinkan pengobatan dan keperawatan yang lebih intensif
(Maryati, dkk. 2009; 148)
Pembatasan kecacatan (dissability limitation)
a. Pengobatan dan perawatan yang sempurna agar penderita sembuh dan tak terjadi komplikasi.
b. Pencegahan terhadap komplikasi dan kecacatan.
c. Perbaikan fasilitas kesehatan sebagai penunjang untuk dimungkinkan pengobatan dan perawatan yang lebih intensif.
Pembatasan cacat (disability limitation) pada tahap ini cacat yang terjadi diatasi, terutama untuk mencegah penyakit menjadi berkelanjutan hingga mengakibatkan terjadinya cacat yang lebih buruk lagi.
(Ririn, 2008; page I)
Disability limitation (pembatasan gangguan)
1.      Penyempurnaan dan intensifikasi terapi lanjutan
2.      Pencegahan komplikasi
3.      Perbaikan fasilitas kesehatan
4.      Penurunan beban social masyarakat
Penerapan pencegahan sekunder pada program kesehatan masyarakat dapat melalui Program P2M, program kesehatan, program KIA melalui deteksi dini, factor resiko gangguan kehamilan
(Zeiny, 2010; page I)
Oleh karena kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan penyakit, maka sering masyarakat tidak melanjutkan pengobatannya sampai tuntas. Dengan kata lain mereka tidak melakukan pemeriksaan dan pengobatan yang komplit terhadap penyakitnya.

Pembatasan cacat (disability limitation) pada tahap ini cacat yang terjadi diatasi, terutama untuk mencegah penyakit menjadi berkelanjutan hingga mengakibatkan terjadinya cacat yang lebih buruk lagi.
(Iqi, 2008; page I)
                                                                      
Pengobatan yg tidak layak dan sempurna dapat mengakibatkan orang yang bersangkutan cacat atau ketidakmampuan, oleh karena itu pendidikan kesehatan juga diperlukan pada tahap ini.
(dewiartika, 2010; page I)

Pembatasan cacat (disability limitation), dimana dilakukan penatalaksanaan terapi yang adekuat pada pasien penyakit yang telah lanjut untuk mencegah penyakit menjadi lebih berat, menyembuhkan pasien serat mengurangi kemungkinan terjadinya kecacatan yang akan timbul.
(Saksono, 2010; page I)


























BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Menurut Leavel dan Clark, upaya promotif dan preventif yang disebut juga upaya adalah segala kegiatan yang dilakukan baik langsung maupun tidak langsung untuk mencegah suatu masalah kesehatan/penyakit.
Upaya promotif dan preventif menurut Leavel dan Clark bermanfaat untuk.
1.      Menurunkan angka kematian
2.      Meningkatkan presentase kasus yang dideteksi dini pada stadium awal
3.      Menurunkan kejadian komplikasi
4.      Menaikan kualitas hidup
      Disabilitationmerupakan lanjutan dari usaha early diagnosis and promotif treatment yaitu dengan pengobatan dan perawatan yang sempurna agar penderita sembuh kembali dan tidak cacat (tidak terjadi komplikasi). Beberapa usaha diantaranya:
1.      Pencegahan terhadap komplikasi dan kecacatan
2.   Pengadaan dan peningkatan fasilitas kesehatan dengan melakukan pemeriksaan lanjut yang lebih akurat seperti pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya agar penderita dapat sembuh dengan baik dan sempurna tanpa ada komplikasi lanjut
  1. Penyempurnaan pengobatan agar tidak terjadi komplikasi

B. Saran
Demikianlah makalah ini kami buat sebaik–baiknya namun sebagai manusia penulis selalu tidak lepas dari kesalahan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun penulis sangat diharapkan untuk menyempurnakan makalah ini.
            Adapun saran yang dapat diberikan:


  1. Bagi mahasiswa
Sebagai mahasiswa diharapkan mahasiswa dapat mengerti dan lebih memahami materi “Disabilitation Sebagai Upaya Preventif dan Promotif” dan sebaiknya mahasiswa lebih banyak mencari referensi pelengkap sehingga menjadi lebih paham akan  materi tersebut.

  1. Bagi Dosen
Diharapkan dosen dapat lebih memberikan penjelasan detail kepada mahasiswa sehingga mahasiswa lebih terbantu dalam memahami materi “Disabilitation sebagai Upaya Promotif dan Preventif”.





                                    















DAFTAR PUSTAKA

Romauli, dkk. 2009. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Nuha Medika

Yuni, dkk. 2009. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Fitramaya

Maryati, Dwi. dkk. 2009. Buku Ajaran Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Nuha medika

Suyati, dkk. 2009. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Nuha Medika







http://abiwilianto.blogspot.com